Oleh : Nita Juniati
Bocah kecil yang mungil bertubuh dekil memikul beban di pundaknya. “Cobek nya bu,pak.. cobek nya...” teriaknya menawarkan “cobek” alat untuk menggerus bumbu yang terbuat dari batu. Pohon rindang jalanan menjadi kawan setia bagi bocah penjual cobek itu. Melindungi dari terik mentari yang menyengat tubuhnya. Matanya sesekali memandang iri anak-anak berseragam putih-merah yang jalan dihadapannya. “Saya udah gak sekolah, setiap hari harus bantu mamah sama bapak nyari uang” ujarnya lirih menekukan kepala.
Bocah kecil yang mungil bertubuh dekil memikul beban di pundaknya. “Cobek nya bu,pak.. cobek nya...” teriaknya menawarkan “cobek” alat untuk menggerus bumbu yang terbuat dari batu. Pohon rindang jalanan menjadi kawan setia bagi bocah penjual cobek itu. Melindungi dari terik mentari yang menyengat tubuhnya. Matanya sesekali memandang iri anak-anak berseragam putih-merah yang jalan dihadapannya. “Saya udah gak sekolah, setiap hari harus bantu mamah sama bapak nyari uang” ujarnya lirih menekukan kepala.
Biaya pendidikan yang semakin membengkak. Sementara tingkat ekonomi orang tua mereka terbatas. Membuat dirinya tak bisa lagi menduduki bangku sekolah. Seperti yang di utarakan oleh bocah kecil penjual cobek “bapak saya cuma buruh tani, gaji nya kecil gak ada uang buat bayar sekolah saya”. Tanpa banyak mengeluh bocah penjual cobek, rela berkeringat dan berteman dengan polusi jalanan demi lembaran uang.
Bocah kecil itu, dalam sehari bisa membawa lebih dari satu cobek. Tidak selalu cobeknya terjual. Rp 25.000 sampai rp 30.000 harga satu cobek yang biasa dia jual. Ada saja orang yang menawar hingga setengah harga. Tetapi ada juga yang sengaja memberi uang lebih.
Terkadang bocah kecil penjual cobek menunggu hadirnya rasa iba dari para pengemudi. Prilaku yang hampir sama dengan mengemis. Menghampiri dari satu mobil ke mobil lainnya ketika lampu merah menyala. “Kalau gak ada yang beli, suka minta-minta uang. Rp 1.000/ 2.000 mah suka ada yang ngasih” ujarnya sambi sedikit tersenyum.
“Cape mah ya cape. Tapi da uang nya juga buat mamah sama bapak, sama buat sekolah juga” katanya dengan penuh harapan. Keringat yang bercucuran tidak pernah mematahkan semangat bocah kecil penjual cobek. Rasa lelah bukan masalah besar baginya. Membahagiakan kedua orang tua dan menggapai cita-cita harapan mulia yang dia miliki.
Lampu merah dan jalanan menjadi bagian yang berarti bagi bocah kecil yang mungil bertubuh dekil. Lembaran uang yang didapat setiap hari menjadi modal keberhasilan baginya. Polusi dan resiko berbahaya dijalan bukan menjadi pikiran. Menendang jauh-jauh rasa lelah dan rasa takut. Seragam putih merah menjadi pakaian impian baginya. Menabung sedikit demi sedikit uang dari hasil jerih payah. Untuk sebuah cita-cita besar yang dia impikan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar