Oleh : Nita Juniati
Malam yang gelap tanpa bintang, terbentang harapan di persimpangan jalan mencari wanita tua. Salma seorang gadis kecil bertubuh mungil, menenteng payung hitam kelam ditangannya. Berjalan menyusuri pemandangan malam yang amat menyeramkan. Salma berjalan seorang diri, tak ada rasa takut pada dirinya. Keberanian mencari wanita tua ditengah sepi dan malam yang kelam.
Langkah demi langkah ia tekad kan untuk menemui wanita tua yang ia pun tak tau dimana keberadaannya. Baju merah yang ia kenakan membalut tubuhnya yang mungil itu, dengan rambut pendek yang terurai. Tak sekalipun Salma beristirahat, langkah nya semakin kencang sambil berteriak “Nenek...nenek....”. Payung hitam yang ia pegang sesekali ia gunakan untuk menepis dedaunan yang menghalangi pandangannnya.
Tanpa bantuan penerangan Salma terus menyusuri perjalanan seorang diri. Tak ada satupun orang yang ditemuinya. Tak ada orang yang bisa ia tanyakan tentang keberadaan wanita tua yang ia cari. Salma tak mengurungkan niatnya, dia terus melangkahkan kakinya yang mungil itu untuk mencari wanita tua. Angin malam yang menusuk kulit tubuhnya, tak ia jadikan masalah. Tak ada sedikitpun kata menyerah yang ia lontarkan dari mulutnya yang mungil itu.
Langit yang semakin gelap, suasana yang semakin mencekam membuat teriakan nya semakin lantang “Nenek...nenek...nenek dimana?”. Tak ada jawaban yang ia dapati. Berusaha terus melangkah, yang akhirnya ia terdiam disebuah persimpangan. Salma tak tau kemana dia harus melanjutkan langkahnya. Kebingungan yang hadir ditengah-tengah pencariannya.
Salma terdiam dan sesekali melirikan wajahnya kekanan dan kekiri. Melangkah kekanan dan sesekali melangkah kekiri memastikan jalan mana yang harus dia lewati. Payung hitam yang ia jatuhkan, berharap memberikan petunjuk baginya. Ujung payung hitam itu mengarah kesebelah kiri, dan itu jelas disadari Salma. Ia berpikir untuk mengikuti arah yang ditunjukan payung hitam itu. Ia kembali membawa payung hitamnya dan melanjutkan perjalanannya.
Salma melawati jalan yang ditunjukan payungnya itu. Tak jauh dari persimpangan dimana tadi Salma terdiam, dia menemukan seorang gadis kecil yang tengah terduduk di depan batu nisan. Salma menghampiri gadis kecil yang sebaya dengannya. “Hai sedang apa kau disini?” tanya Salma sambil menekukan kepala agar lebih jelas melihat wajah gadis kecil itu.
Gadis kecil itu tak menjawab pertanyaan Salma. “Ini apa?” Salma kembali bertanya sambil menunjukan tangannya ke arah batu nisan. “Hai apa kau merasa terganggu dengan kehadiran ku?” Salma yang terus bertanya kepada gadis kecil itu. Lama tak mendapati jawaban dari gadis kecil itu Salma berniat untuk pergi dan kembali pada tujuannya mencari wanita tua.
Sambil melangkah pergi, sesekali Salma melihat kebelakang memastikan gadis kecil itu. Gadis kecil itu tetap duduk didepan batu nisan, tak ada pergerakan yang berubah dari nya. Salma tak berpikir panjang tentang hal itu, dia kembali berteriak lantang “nenek...nenek...”. Kali ini dia dengar ada seseorang yang berteriak sama dengannya “nenek...nenek...” dari arah yang tak jauh dari tempat dia berdiri.
Salma memandangi setiap sudut jalanan, dan dia mencari siapa yang berteriak. Tak ada seorangpun yang dia lihat. Dia berpikir apa mungkin gadis kecil yang dia temui tadi. Akhirnya Salma berlari ketempat yang tadi dan dia kembali melihat gadis kecil yang sebaya denganya masih berada ditempat itu. Kali ini gadis kecil itu tak duduk seperti tadi.
Sesampai ditempat tadi, gadis kecil itu tengah berdiri dihadapannya. Gadis kecil yang sama-sama memegang payung hitam dengannya. “Kau mencari nenek mu?” tanya gadis kecil itu lirih kepada Salma. Salma yang kali ini terheran-heran memandangi payung hitam yang dipegang oleh gadis kecil itu sampai-sampai Salma tak menjawab pertanyaan yang dilontarkan padanya.
“Apa ada yang aneh dengan payung hitam yang ku pegang ini? bukan kah kau punya payung hitam yang sama ditangan mu?” tanya gadis kecil itu kembali. “Yang ku tau hanya nenek yang sedang ku cari yang memiliki payung seperti yang kupegang ini, dan aku tak percaya kau memiliki payung yang sama percis” jawab Salma sambil terus memandangi payung hitam yang dipegang gadis kecil itu.
“Apa kau yang tadi berteriak “nenek..nenek..” mengikuti teriakan ku?” tanya Salma kembali pada gadis kecil itu. “Apa kau percaya? Nenek yang kau cari ada di bawah batu nisan ini.” kata gadis kecil itu sambil memegang batu nisan. “Tidak!!!! Mana mungkin nenek itu tinggal dibawah tanah, yang ku tahu hanya cacing yang bisa hidup dibawah tanah” jawab Salma tak percaya.
“Aku pun tak percaya itu, tapi tadi sore aku lihat, nenek yang pernah memberi ku payung hitam ini (memperlihatkan payungnya) duduk di sini, hanya beberapa menit ku membalikan badan kebelakang karena teman ku memanggil. Dan saat ku kembali membalikan badan, ternyata nenek itu sudah tidak ada.” Jawab gadis kecil itu meyakinkan Salma. “Aku tak pernah tau, apa yang terjadi dibawah sini. Makanya dari sore tadi aku memustuskan untuk diam ditempat ini. Menunggu nenek itu.” Katanya kembali.
Salma terdiam sambil menatap tumpukan tanah yang ada disampingnya. Dia baru sadar bahwa itu adalah sebuah kuburan. Dan dia tahu kuburan adalah tempat untuk orang yang sudah meninggal dunia. Salma yang sebelumnya tidak pernah tahu batu nisan, kini dia benar-benar melihat batu nisan yang tertancap di setiap ujung tumpukan tanah.
Salma mulai menjauh dari tempat itu, dan dia menarik gadis kecil dihadapnya untuk berlari bersamanya. “Hai kau akan membawa ku kemana? Bagaimana nasib nenek itu?aku belum menemuinya!” kata gadis kecil itu. Salma tak memperdulikan perkataan gadis kecil itu, Salma terus menarik gadis kecil itu berlari dengannya.
Perjalanan yang cukup jauh ditempuh kedua gadis itu. Langit pun berganti menjadi terang, menandakan kehadiran pagi. Salma dan gadis kecil itu pun berhenti berlari. Dan mereka tersadar ternyata mereka berdiri didepan sebuah rumah tua. Salma dan gadis kecil duduk di teras rumah tua, sambil melepas lelah. “Hai mengapa kau mengajak ku berlari?aku ingin bertemu nenek itu. Bagaimna kalau nenek itu memanggilku dari bawah batu nisan tadi.” kata gadis kecil itu kepada Salma.
“Kau jangan bodoh! Tempat yang tadi kau diami itu adalah sebuah kuburan tempat dimana orang meninggal disimpan” jelas Salma kepada gadis itu. Salma dan gadis kecil itu terus beradu mulut membicarakan tentang nenek yang memberi mereka payung hitam dan kuburan yang tadi mereka diami.
Tak lama seorang wanita tua, membuka pintu rumah, dimana Salma dan gadis kecil itu duduk. Wanita tua itu, menghampiri Salma dan gadis kecil itu. “nak, sedang apa pagi-pagi begini sudah duduk dirumah nenek?” sapa wanita tua. Salma dan gadis kecil itu dengan spontan berteriak “AHHHHH”.
Teriakan yang membuat seorang wanita tua itu terheran-heran. “kenapa nak?” tanya wanita tua itu menenangkan kedua gadis kecil dihadapnnya. “Kemarin sore aku melihat nenek di depan nisan di dekat persimpangan” kata gadis kecil. “Iya Kemarin nenek baru berjiarah ke makan suami nenek. Oh iya nenek baru ingat kalian gadis-gadis kecil yang pernah nenek temui dijalan yah?” kata wanita tua itu sambil tersenyum.
“Iya nek aku Salma yang pernah nenek beri payung hitam ini pada ku (sambil menunjukan payungnya). Tadi malam payung ku rusak nek, dan aku mencari nenek untuk membantuku membetulkan payung ini” kata Salma menjelaskan. “Tapi nek, semalam aku bertemu dengan dia (sambil menunjuk gadis kecil). Dan dia mengatakan bahwa nenek berada dalam tanah” lanjutnya menjelaskan. “Ia nek aku kira nenek masuk kedalam tanah dibawah nisan. Karena tak lama aku membalikan badan, nenek sudah menghilang.” Kata gadis kecil sambil tertawa.
Wanita tua itu, tertawa sambil mengelus-elus rambut kedua gadis tersebut. Salma merasa lega karena akhirnya dia bisa menemukan wanita yang semalaman dia cari. “Kalian gadis-gadis jalanan yang luar biasa yang pernah ku temui. Semoga payung hitam yang ku berikan dapat melindungi kalian dari terik mentari dan derasnya hujan.” Ujar wanita tua.
Salama begitu bahagia, ketika dia bisa bertemu dengan wanita tua yang dicarinya semalaman. Dan dia senang payung hitam yang diberikan oleh wanita tua itu kembali rapih dan tidak rusak lagi. Dan akhirnya Salma menemukan teman baru yang ditemuinya semalam. Gadis kecil itu bernama Riani, dia dan Salma sama-sama anak jalanan. Dan payung hitam yang diberikan wanita tua itu sangat berarti bagi mereka berdua. Payung hitam yang bisa melindungi mereka dari terik mentari dan air hujan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar